Berjuanglah, Semangat Tanpa Tanda Jasa!

Category : berita
Berjuanglah, Semangat Tanpa Tanda Jasa!by Sectudon.Berjuanglah, Semangat Tanpa Tanda Jasa!Beberapa waktu lalu saya menemukan seorang anak muda yang berprestasi namun sedang tersandung dengan problematika kehidupan, sehingga mengalami sebuah ketidakberuntungan (Saya tidak menyebutkan nama ataupun inisialnya). Umurnya baru 20 tahun dan perempuan. Dia diberi penawaran untuk menjadi seorang guru (dalam bidang eksakta, di mana saat ini kebutuhan guru di bidang tersebut sedang meningkat—namun SDMnya masih […]

Beberapa waktu lalu saya menemukan seorang anak muda yang berprestasi namun sedang tersandung dengan problematika kehidupan, sehingga mengalami sebuah ketidakberuntungan (Saya tidak menyebutkan nama ataupun inisialnya). Umurnya baru 20 tahun dan perempuan. Dia diberi penawaran untuk menjadi seorang guru (dalam bidang eksakta, di mana saat ini kebutuhan guru di bidang tersebut sedang meningkat—namun SDMnya masih kurang di Kep.Riau).

Bukanlah sembarang pilih tanpa ada argumen, karna rangkaian prestasi yang dia bisa bukan sekedar di kepulauan ini namun juga saat dia menimba pengetahuan di Yogyakarta yaitu pada bagian itu. Tetapi, jawabannya malah buat si pemberi tawaran serta orang di sekelilingnya tertegun serta sunyi, bahkan juga saat saya mendengar hal tersebut, merinding serta haru jadi satu.

” Ya, saya memanglah telah pikirkan gagasan untuk jadi seseorang guru, tapi maaf, bukanlah untuk sekarang ini. Sekarang ini bahkan juga hingga umur saya 30 th. kelak, saya juga akan pilih pekerjaan yang buat saya bisa hasilkan uang. Kelak saat saya berumur 30 th. ke atas, saya tentu terima tawaran itu serta saya benar-benar sangat sukai mengajar, mengajar itu telah jadi hoby untuk saya. Mengajar itu mengasyikkan untuk saya. Tapi untuk sekarang ini dengan keadaan serta kondisi yang saya alami, saya tidak dapat jadi munafik. Sekarang ini yang saya perlukan yaitu uang serta bagaimana saya bisa memenuhi keperluan saya, juga memenuhi dana untuk pendidikan saya. Saya tidak mau jadi guru maupun pengajar pada saat tujuan saya masih tetap mencari uang. Menurut saya, mengajar atau jadi guru yaitu profesi tanpa ada sinyal jasa, jikalau ada gaji itu hanya reward bukanlah suatu hal yang diinginkan juga akan ada bayaran tiap-tiap bulannya. Saya pastinya akan jadi guru karna memanglah saya tentu suka men-transfer pengetahuan dengan profesi itu, tapi tidak saat ini. ”

Serta saya pernah bertanya hal yang saya tangkap dari jawabannya. Nyatanya, apa yang diutamakan pada jawabannya yaitu :

1. Dia menerangkan dengan tegas kalau guru baginya tidaklah satu ‘pekerjaan’ tetapi profesi ;

2. Jangankan mengeluh upah kecil, malah dia hindari tawaran serta menampik berasumsi upah itu jadi bayaran untuk profesi tanpa ada sinyal jasa itu. Menurut dia, apabila ada, lebih layak mengatakan ‘reward’, supaya besar kecilnya bukanlah jadi yang dirasakan, tetapi kebahagiaan penambahan diluar mendidik/mengajar dengan kata lain bonus ;

3. Dia begitu sadar kalau jadi guru berarti melayani dengan ikhlas, mengajar tanpa ada pamrih, mentransfer pengetahuan tanpa ada mengharap kembali. Karenanya, dia menjauh dari profesi itu pada saat orientasinya yaitu mencari uang.

Saya jadi ingat saat saya bersekolah di SMA Swasta Yogyakarta, saya menyampaikan kabar kalau saya lolos tes kuliah di jurusan serta kampus yang saya kehendaki pada guru saya, serta jawabannya masih tetap terngiang di telinga saya, beliau menjawab sembari merangkul saya di dekat tangga,

” Wah suka sekali ayah, nak, mendengarnya. Rasa-rasanya tunai pekerjaan ayah mengantar anda ke tahap yang lebih tinggi, ini yang jadi kebahagiaan guru-guru, nak, lihat anak-anaknya berhasil. Janganlah berasumsi saya atau guru beda jadi orang yang juga akan mengajarkan anda ini serta itu, tapi tetaplah anggap saya ‘bapak kamu’ yang miliki tanggung jawab untuk membesarkan anaknya yang tengah tumbuh serta berkembang. Karna begitu saya terasa bahagia. Saya juga akan terasa bersalah bila berlangsung apa-apa dengan anak-anak saya, serta saya tentu lakukan yang paling baik untuk anak saya. ”

Kembali pada wanita itu, baru saya sadari, wanita 20 th. itu juga berikan pelajaran serta cambukan baru buat saya yang sempat juga jadi guru, serta jadi argumen kenapa saya menulis tulisan panjang hari ini. Saya mendengar jawabannya sekitaran 15 hari sebelumnya hari ini, namun jawabannya masih tetap saya ingat, begitu halnya jawaban guru saya (sebelumnya paragraf ini) telah berlalu sekitaran 5 th. lantas, namun masih tetap saya ingat kata serta raut berwajah.

Mudah-mudahan mereka di beri ketenangan batinnya serta kebahagiaan senantiasa. Terimakasih ya Wanita 20 th., saya doakan anda berhasil yang akan datang, berdoalah serta mengambil langkah sekali lagi dengan jalanmu yang baru, mudah-mudahan nantinya terwujud cita-citamu jadi guru yang bersih serta kembalikan semangat tanpa ada sinyal jasa di negeri Pertiwi ini. Mudah-mudahan makin banyak yang berfikiran sepertimu.

Baca Juga: Contoh surat tugas

Terima kasih guru, pengajar, serta pendidik saya dari SD, SMP, SMA, kuliah, walau tidak sama langkah mendidik serta mengajarmu, ada yang buat saya trauma, ada yang buat saya bahagia, ada yang ajarannya menginginkan selekasnya saya lupa, ada yang ajarannya belum juga sempat terlupa, ada yang kata-katanya menyakiti saya, ada yang kata-katanya emas untuk saya yang berikan pengalaman negatif tidak juga akan saya lupa, yang berikan pengalaman positif lebih tidak juga akan saya lupa. Saya yakin juga akan ada satu kebahagiaan dibalik pengalaman baik, serta ada satu pelajaran bernilai dibalik pengalaman terburuk meskipun.

Saya telah tumbuh serta berkembang tidak terlepas dari jasamu.

Terima kasih

Avatar for Sectud

Author: 

Related Posts